Razia Dini Hari di Kuansing: Ketika Dua Gadis Luar Daerah Berpesta minuman Keras di Kompleks Perkantoran Pemda

TELUK KUANTAN – Sunyinya kompleks Perkantoran Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) pecah ketika jarum jam menunjukkan pukul 04.00 WIB, Minggu (20/9/2026). Di balik remang malam, tim patroli Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menemukan pemandangan yang memprihatinkan: dua gadis muda tengah duduk menemani seorang rekan prianya menenggak minuman keras.

Tanpa perlawanan, ketiga remaja tersebut langsung digelandang ke markas Satpol PP Kuansing untuk diamankan. Namun, kisah di balik penjangkauan ini justru membukakan tabir duka yang lebih mendalam.

Dari hasil pendataan, kedua gadis tersebut sama sekali tidak mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan tak memiliki satu pun kerabat di Bumi Nagori Tuah Kuantan. Yang lebih memilukan, salah satu di antara mereka ternyata masih berstatus di bawah umur. Kasat Pol PP melalui Kasi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), Albert, mengaku sempat mengalami kesulitan saat menggali informasi.

“Kedua wanita muda ini cukup berbelit-belit saat diinterogasi, dan satu di antaranya masih di bawah umur,” ujar Albert.

Setelah ditelusuri perlahan, terungkap bahwa mereka mengadu nasib jauh dari kampung halaman—seorang berasal dari Sumatera Utara dan seorang lainnya dari Sumatera Barat. Hingga pukul 21.00 WIB, suasana haru membiru di kantor Satpol PP. Belum ada satu pun pihak keluarga yang datang menjamin keberadaan mereka di tanah rantau.

Uluran Tangan Rekan Media
Tersentuh oleh kondisi kedua gadis yang terancam terlunta-lunta di markas petugas, seorang insan pers setempat tergerak hatinya. Setelah mendapat telepon langsung dari pihak keluarga salah satu gadis dari luar daerah, awak media tersebut tanpa ragu memberanikan diri menjadi penjamin sementara.

Surat Berita Acara Penyerahan pun ditandatangani demi memastikan kedua anak manusia itu mendapatkan perlindungan yang layak, sembari menunggu pihak keluarga menempuh perjalanan darat selama empat jam menuju Kuansing.

Dahaga penantian itu akhirnya terobati. Sekitar pukul 23.30 WIB, tangis haru pecah di ruang penyerahan saat pihak keluarga tiba di lokasi. Wajah-wajah cemas perlahan luluh ketika awak media secara resmi menyerahkan kembali kedua gadis tersebut ke pelukan hangat keluarganya.

Malam yang dingin dan kelam di kompleks perkantoran itu pun ditutup dengan sebuah pelajaran berharga tentang kekhilafan masa muda, kepedulian antar-sesama, dan hangatnya jalan pulang menuju keluarga.(B.A)